Balik Ke Indonesia, Radja Nainggolan Malah Diabaikan Oleh Sang Ayah

Radja Nainggolan

Pialaliga1.com – Radja Nainggolan telah mengenang masa lalunya yang sangat rumit. Dalam wawancara yang cukup personal dengan stasiun televisi Belgia VTM, Nainggolan telah mengungkapkan masa kecilnya yang suram.

Saat masih kecil, Nainggolan hidup dalam kemiskinan. Dalam situasi yang cukup sulit seperti itu, sang ayah justru meninggalkannya dan keluarganya untuk kembali ke Indonesia. Alhasil, sang ibu harus bekerja keras untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.

Pada saat kondisi itu sungguh sangat sulit. Ia bahkan pernah merasakan hidup satu bulan tanpa listrik. Karenanya, ia berusaha keras untuk membantu ibunya ketika sudah mendapatkan penghasilan sendiri sebagai pemain sepakbola.

Masa Kecil Yang Sangat Suram

Radja Nainggolan || Pialaliga1.com

Nainggolan sudah mencertikan perjuangan sang ibu untuk menghidupi keluarganya. Selain itu harus membiayai anak-anaknya, Ibu Nainggolan juga harus membayar utang keluarganya.

“Saat itu ada tiga orang yang tinggal dirumah kami, Ayah saya sudah meninggalkan kami, Ibu saya harus membayar banyak utang. Dia mendapatkan gaji 1.300 euro dengan bekerja 10 jam perhari. Kami dapat makan makanan yang sama tiga kali dalam sepekan. Kami juga pernah hidup sebulan tanpa listrik,” Kenang Nainggolan.

Lantaran masa kecilnya itu sangat berat, Nainggolan menjadi sangat sayang kepada ibunya. Saat karier sepakbola membawanya ke Italia, Ia sempat tidak betah karena ingin pulang dan ingin kumpul bersama keluarganya. Namun ia kemudian menguatkan diri dan akhirnya bisa sukses.

“Saya sempat tidak mau pergi ke Italia. Saya ingin pulang ke Belgia setelah enam bulan berada di Italia, Tapi saudara saya meyakinkan untuk bertahan. Saya mendapat gaji 1.400 Euro perbulan di pescara, dan saya bisa mengirimkan 500 euro kepada ibu saya setiap bulannya.”

Namun pengalaman Nainggolan dengan sang ayah cukup negatif. Ia bahkan sudah berusaha memberikan kesempatan untuk menajalin kembali hubungan dengan sang ayah, Tapi ia merasa di abaikan.

“Ayah  saya? Saya balik ke Indonesia empat tahun lalu. Saya ingin memberikan ayah saya kesempatan sekali lagi. Saya ingin dapat memaafkannya. Tapi dia mengabaikan saya dan malah meminta uang kepada saya.”